Selasa, 15 Oktober 2013

POLIP HIDUNG




A.    Definisi

            Polip hidung adalah tumor bertangkai yang timbul dari mukosa sinus hidung. Polip ini menyebabkan obstruksi hidung, rinorea, bersin dan penurunan atau hilangnya kemampuan menghidu.Tetapi dengan kortikosteroid topikal dapat dilakukan. Tetapi bedah mencakup polipektomi atau etmoidektomi.
              Polip nasi ialah massa lunak yang bertangkai di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Permukaannya licin, berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral. (Anonim, 2010).
                   Polip hidung adalah massa lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang   terdapat dalam rongga gidung. Paling sering berasal dari sinus etmoid, multiple, dan  bilateral. Biasanya pada orang dewasa. Pada anak mungkin merupakan gejala kistik fibrosis.
                  Polip konka adalah polip hidung yang berasal dari sinus maksila yang keluar melalui rongga hibung dan membesar di konka dan nasofaring. ( Mansoer ,1999) 


GLAUKOMA


A.    Definisi
      Glaukoma adalah Sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokular. ( Barbara C Long, 2000 : 262 )
      Glaukoma merupakan sekelompok penyakit kerusakan saraf optik(neoropati optik) yang biasanya disebabkan oleh efek peningkatan tekanan okular pada papil saraf optik. Yang menyebabkan defek lapang pandang dan hilangnya tajam penglihatan jika lapang pandang sentral terkena. (Bruce James.  et al , 2006 : 95)
      Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai ekskavasi glaukomatosa, neuropati saraf optik, serta kerusakan lapang pandang yang khas dan utamanya diakibatkan oleh tekanan bola mata yang tidak normal. (Sidarta Ilyas, 2002 : 239)
      Glaukoma adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal (N = 15-20mmHg). (Sidarta Ilyas, 2004 : 135)
      Glaukoma adalah kondisi mata yang biasanya disebabkan oleh peningkatan abnormal tekanan intraokular ( sampai lebih dari 20 mmHg). (Elizabeth J.Corwin, 2009 : 382)
      Glaukoma adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya peningkatan TIO, penggaungan, dan degenerasi saraf optik serta defek lapang pandang yang khas. ( Anas Tamsuri, 2010 : 72 )


B.    Etiologi
      Penyebabnya tergantung dari klasifikasi glaukoma itu sendiri tetapi pada umumnya disebabkan karena aliran aqueous humor terhambat yang bisa meningkatkan tekanan intra okuler.
Faktor-faktor resiko dari glaukoma adalah (Bahtiar Latif,2009).
·      Umur
·      Riwayat anggota keluarga yang terkena glaukoma
·      Tekanan bola mata /kelainan lensa
·      Obat-obatan

1.          GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP
          Glaukoma akut hanya terjadi pada mata yang sudut bilik mata depannya memang sudah sempit dari pembawaannya. Jadi ada faktor pre-disposisi yang memungkinkan terjadinya penutupan sudut bilik mata depan.
a.       Faktor Pre-Disposisi
Pada bilik mata depan yang dangkal akibat lensa dekat pada irirs maka akan terjadi hambatan aliran akuos humor dari bilik mata belakang ke bilik mata depan, yang dinamakan hambatan pupil (pupillary block) hambatan ini dapat menyebabkan meningkatnya tekanan di bilik mata belakang.
Pada sudut bilik depan yang tadinya memang sudah sempit,dorongan ini akan menyebabkan iris menutupi jaringan trabekulum.akibatnya akuos humor tidak dapat atau sukar mencapai jaringan ini dan tidak dapat di salurkan keluar.terjadilah glaukoma akut sudut tertutup.
Istilah pupillary block penting untuk di ingat dan di fahami karena mendasari alasan pengobatan dan pembedahan pada glaukoma sudut tertutup.
Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya hambatan pupil ini ditemukan pada mata yang bersumbu pendek dan lensa yang secara fisiologik trus membesar karena usia,iris yang tebal pun di anggap merupakan faktor untukmempersempit sudut bilik depan.
b.      Faktor pencetus
Peningkatan jumlah akuos humor yang mendadak di bilik mata belakang akan mendorong iris ke depan,hingga sudut bilik mata depan yang memang sudah sempit akan mendadak tertutup. Tidak diketahui dengan jelas apa yang menyebabkan hal tersebut.
c.       Dilatasi pupil
Apabila pupil melebar, iris bagian tepi akan menebal ; sudut bilik mata depan yang asalnya sudah sempit, akan mudah tertutup. (Sidarta Ilyas, 2002 :249-250)

2.          GLAUKOMA KONGESIF AKUT
          Seseorang yang datang dalam fase serangan akut glaukoma memberi kesan seperti orang yang sakit berat dan kelihatan payah; mereka diantar oleh orang lain atau di papah. Penderita sendiri memegang kepala nya karena sakit, kadang-kadang pakai selimut. Hal inilah yang mengelabui dokter umum; sering dikiranya seorang penderita dengan suatu penyakit sistemik.
          Dalam anamnesis, keluarganya akan menceritakan bahwa sudah sekian hari penderita tidak bisa bangun, sakit kepala dan terus muntah-muntah, nyeri dirasakan di dalam dan sekitar mata. Penglihatanya kabur sekali dan dilihatnya warna pelangi di sekitar lampu.
          Apabila mata diperiksa, ditemukan kelopak mata bengkak,konjungtiva bulbi yang sangat hiperemik (kongesif), injeksi siliar dan kornea yang suram. Bilik mata depan dangkal dapat dibuktikan dengan memperhatikan bilik mata depan dari samping. Pupil tampak melebar, lonjong miring agak vertikal atau midriasis yangg hampir total.
          Refleks pupil lambat atau tidak ada. Tajam penglihatan menurun sampai hitung jari. Sebenarnya dengan tanda-tanda luar ini ditambah anamnesis yang teliti sudah cukup untuk membuat suatu diagnosis persangkaan yang baik.
          Glaukoma Absolut adalah istilah untuk suatu glaukoma yang sudah terbengkalai sampai buta total. Bola mata demikian nyeri, bukan saja karena tekanan bola mata yang masih tinggi tetapi juga karena kornea mengalami degenerasi hingga mengelupas (keratopati bulosa). (Sidarta Ilyas, 2002 : 252)

3.          GLAUKOMA SUDUT TERBUKA
          Hambatan pada glaukoma sudut terbuka terletak di dalam jaringan trabekulum sendiri, akuos humor dengan leluasa mencapai lubang-lubang trabekulum,tetapi sampai di dalam terbentur celah-celah trabekulum yang sempit, hingga akuos humor tidk dapat keluar dari bola mata dengan bebas.
 ( Sidarta Ilyas, 2002 : 257 )